Jumat, 23 Agustus 2013

review seminar, aliyah alfianda

OSKM 2013,
23 Agustus 2013
                Jadwal kegiatan utama hari ini adalah seminar yang menitik beratkan pada sebuah tema Cinta Tanah Air. Terdapat empat pembicara pada kesempatan kali ini; Bapak Gita Wiriawan, WANADRI , Ibu Tri Mumpuni Iskandar dan Founder & CEO Riset Indie, Seherhen Akbar. Dan moderator kali ini adalah seorang Puteri Indonesia Tahun 2011 dan alumnus Sekolah Bisnis Manajemen, Maria Selena.
Sesi pertama ini dimulai oleh seorang pembicara yang memiliki peran penting dalam pembangun ekonomi di Indonesia, seorang Menteri Perdagangan. Dia adalah Bapak Gita Wiriawan. Ia mengatakan bahwa kita yang menjadi seorang mahasiswa penerus bangsa harus dapat memiliki semangat kemahasiswaan yang tetap berada pada skala kearifan lokal. Kearifan lokal adalah seorang pemuda - pemudi yang bersifat global tapi tetap memiliki rasa kedaerahannya. Tidak melupakan tanah tempat rumah mereka.
Kita diharapkan dapat menjadi seorang pemimpin yang mengerti kepentingan masyarakatnya. Tidak hanya melihat tetapi menegrti apa yang terjadi. Mengerti apa yang dibutuhkan oleh masyarakatnya.
                “If you want it, you will get it”, Gita Wiriawan
Sebagai seorang ketua PBSI ia menjadi pemimpin yang dapat memberikan pengarahan dan membangun kepercayaan dan diri para pemain bulu tangkis untuk menjadi seseorang dengan watak pemenang. Ketika kita memiliki kemauan yang besar seberat apapun itu kita akan mendapatkannya. Dengan usaha yang besar dan mempercayai diri kita sendiri.
Dengan mengahrapkan kita menjadi seorang pemimpin yang adil dan bijaksana kedepannya, kita diharapakn dapat mengubah status perekonomian Indonesia. Tiap dekade memiliki masalah – masalah yang berbeda. Tingkat yang berbeda. Sikap yang berbeda. Dalam masa ini, abad 20 kita dihadapkan pada masa kontra korupsi.
Keadaan ekonomi kita berada di isi G20. Di mana demokrasi, pluralisme dan aspek lainnya menjadi isi dalam sebuah bangsa. Kita sebagai salah satu negara muslim terbesar. Kita menguasai berkisaran 20% dari seluruh penduduk dunia tetapi hanya memiliki perekonnomian sebesar 9%. Solusi yang diharapkan bahwa perekonomian dapat memiliki presentasi yang lebih tinggi dengan dapat mengapresiasikan aspek pluralisme.
Kembali lagi tanpa kearifan lokan kita akan melupakan jati diri kita. Melupakan kulit yang selama ini menyelimuti kita. Seharusnya kita dapat mengkiblati Gangnam Style dalam proses kearifan lokal. Gangnam Style ini memiliki kekayaan budaya, teknologi, kemajuan ekonomi dan juga kesinambungan demokrasi . Menjadi pemuda yang dapat menggunakan keempat aspek tersebut.
Dimana rumpun kita telah merapkan hal tersebut dan telah mengikis eksistensi Amerika dalam perdagangan dunia. Dan juga dikarenakan oleh masa transformasi yang berkembang pesat. Dan Tiongkok berada pada posisi kedua. Dengan melihat peluang tersebut kita mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan QUE kita dari 1 Trilliun dollar menjadi 600.000 trilliun dollar dalam jangka waktu 20 tahun ke depan.
Tetapi permasalahan yang ada kita diramalkan  tidak mampu mengisi 360.000 trilliun ollar karena kita tidak mampu mengisi kebutuhan konsumsi masyarakat kita sendiri.
Kita mampu mengkiblati usaha Korea Selatan dalam usaha mengembangkan negaranya. Mereka membiayai secara fiskal dan non – fiskal masyarakatnya. Meraka memnciptakan reformasi agaria di mana mereka mengembangkan bidang pertanian dan manufaktur dan berkembang lagi ke tahap lebih tinggi menjadi ekspor budaya yang dapat kita lihat perkembangannya saat ini. Dimana mereka mampu menciptakan teknologi – teknologi terbaru pada bidang pertanian.
Kita terus berada pada middle income track dikarenakan kita tidak mampu membuat teknologi – teknologi pembaharuan walaupun kita memiliki pendapatan perkapita yang cukup tinggi.
Dengan permasalahan seperti ini kita diaharapkan dapat menjadi pemimpin yang dapat menjawab tantangan – tantangan di masanya. Lebih responsif dan bersifat dengan segala aspek kehidupan. Mengedepankan nasionalisme sebagai masyarakat dunia.  Jadilah garuda yang kreatif, terampil.
Pembicara yang kedua berasal dari perkumpulan WANADRI yaitu Indra Hidayat. Di sini dia memaparkan tentang fisiologi Indonesia secara umum dan betapa spesialnya keadaan posisi dan struktur Indonesia.
Kita memiliki pengunungan berapi yang berada dari Aceh hingga Jawa sehingga menghasilkan biothermal yang banyak. Dan Indonesia memiliki,
·         4,5 juta km2 daerah NKRI berdasarkan deklarasi Juanda.
·         Memiliki 17.000 pulau
·         Kars yang kaya, 90% belum terjamah oleh ekplorasi
WANADRI memiliki tujuan untuk mengembangkan pemuda – pemudi di alam bebas sehingga mereka dapat lebih mencintai tanah air. Di mana WANADRI menitiberatkan pada orientasi, pendidikan, penjelasan dalam ilmu pengetahuan dan bakti masyarakat.
Dan pembicara ketiga dalam seminar ini adalah Tri Mumpuni Iskandar penerima Climate Hero. Ia mengatakan kita harus menjadi sesorang memiliki pemikiran dnegan logika akal sehat dan rasa empaati yang tinggi. Sehingga kita mewujudkan individual yang berkompeten, berkualitas dan berperasaan.
Dengan paradigman yang tepat dan kearifan lokal memberikan kekuatan masyarakat menjadi pemimpin yang beritnetgritas.
Ekonomi adalah usaha kerja manusia setimang dalam konsumsi pertumbuhan setinggi – tingginya seharusnya dapat berkelanjutan dan optimal dengan melihat lingkungan dan masyarakat lokal.
Ketika menyukai hal yang kita lakukan dapat menghasilkan hasil yang lebih baik karena kita mengerjakannya secara maksimal. Baik hasil baik pula ekonomi suatu negara.
Yang menyebabkan kemiskinan adalah investor terus mengekploritasi sumber daya alam tanpa melibatkan masyarakat lokal. Karena investor hanya mencari kekayaan untuk pribadi tanpa memikirkan orang lain.
Kita diharapkan menjadi seseorang pemimpin yang bijaksana, lugas dan memiliki empati yang tinggi. Menjadi seorang individu yang pro-lingkungan dan pro-masyarakat.
Dan pembicara terakhir kita adalah seorang  Founder & CEO Riset Indie, Seherhen Akbar. Ia menjelaskan bagaimana kampus dan lingkungan di luar dan di dalam kampus  membentuk dirinya menjadi seseorang sekarang ini. Bagaiamana kita dapat melihat kejadian – kejadian di kehidupan secara lebih kritis. Kita perlu memiliki panutan sehingga kita dapat lebih fokus untuk menjadi seorang yang kita impikan.
Ia menjadi seorang Founder Riset Indie, di mana komunitas ini mejadi wadah bagi permasalahan – permasalahan masyarakat yang dapat dilihat peluang usaha. Menghasilkan keuntungan tidak hanya sekedar materi beruapa uang.
Kita diharapakan dpat berguna bagi bangsa dan tidak menjadi beban bangsa kita sendiri. Kita belum perlu bangga menjadi mahasiswa ITB tetapi kita harus akan bangga pada diri kita ketika kita telah menadi alumni dan berhasil memberikan distribusi kepada negara. Bangsa  Indonesia.



Resume Seminar OSKM ITB 2013

oleh Afifa Husna
FTI
16713320

Hari ini OSKM 2013 menggelar seminar. Seminar ini membahas tentang kearifan local, sesuai dengan tema OSKM 2013. Ada empat pembicara yang hadir memberikan materinya. Masing-masing pembicara diberikan waktu kurang lebih dua puluh lima menit.

Pembicara pertama adalah Bapak Gita Wirjawan. Beliau membuka seminar dengan bercerita mengenai pengalamannya mengantar dan menonton langsung pebulu tangkis Indonesia merebut 2 medali emas di kejuaraan di Guang Zhou, Cina. Beliau berkata bahwa semua hal itu mungkin terjadi, hanya masalah sejauh mana kita menginginkannya. “If you want it, you will get it”, ucap beliau.

Bapak Gita Wirjawan berpendapat bahwa pemimpin sekarang haruslah jelas mengenai demokrasi, pluralism dan pengemasan hal-hal dengan baik. Indonesia sebagai negara Islam terbesar di dunia, seharusnya dapat menjadi negara dengan keadaan ekonomi yang memiliki banyak berpengaruh pada ekonomi dunia. Untuk itu kita harus lebih proaktif,

 Indonesia membutuhkan para pemimpin dengan kearifan local. Masalah yang tengah Indonesia hadapi saat ini yaitu adanya resiko 60 persen sector ekonomi dan pemenuh konsumsi dalam negeri Indonesia tidak terisi oleh orang Indonesia sendiri. Masyarakat sekarang cenderung lebih memilih murah dan kenyang, sementara pola piker yang seharusnya ada adalah ‘bangga berbangsa’ dan ‘mengapa kita tidak bisa?’. Dengan banyaknya produk-produk luar negeri yang berada di tengah-tengah masyarakat, kita seharusnya dapat memilih dan memajukan produk local walaupun harganya biasanya lebih mahal. Contohnya saja negara Korea yang pada awalnya merupakan negara yang terbelakang. Setelah mengalami revolusi agrarian, masyarakat Korea memulai industry teknologi dengan bantuan pemerintah. Pada akhirnya, usaha-usaha tersebut mengantarkan merk-merk teknologi Korea mendunia saat ini.

Untuk itu, Indonesia perlu meningkatkan 60 persen produktivitas tenaga kerja yang dimiliki. Kita telah berada pada ‘middle income track’ dan harus segera lepas dari titel ini. Middle income track dapat diartikan ‘tidak berteknologi’. Kita memiliki bahan mentah tapi tidak dapat mengolahnya menjadi bahan yang bernilai jual jauh lebih tinggi.

Pembicara kedua adalah tiga pemuda dari Wanadri. Mereka bertiga bercerita tentang hal-hal yang telah mereka lakukan untuk membanggakan Indonesia dengan cara mereka sendiri. Mereka memulai seminar dengan menjelaskan betapa kayanya negara Indonesia yang kita tinggali saat ini. Lebih dari 17.000 pulau, kekayaan laut di dalam wilayah Indonesia serta daerah karts membuat kita seharusnya semakin mencintai negeri ini.

Beberapa masalah yang dikedepankan oleh pembicara dari Wanadri yaitu intervensi budaya. Seharusnya kita dapat melihat sisi positifnya, apabila ada negara lain yang mengakui kebudayaan Indonesia seharusnya kita ikut bahagia karena budaya Indonesia sangat baik hingga negara lain ingin memilikinya. Itu bukan hal buruk selama Indonesia sendiri tetap membuat kebudayaan-kebudayaan baru yang lebih menarik lagi. Kegiatan lain dari Wanadri adalah pendidikan, penjelajahan dan pengembangan ilmu pengetahuan, bakti masyarakat dan perlindungan alam.

Kemudian pembicara ketiga adalah Ibu Tri Mumpuni Iskandar. Beliau mengangkat tema ‘Intergritas dan Kompetensi alumni ITB oleh kemandirian dan kesehajteraan bangsa. Integritas dan kompetensi harus diwujudkan melalui dua aspek agar seimbang dan harmonis. Aspek pertama adalah aspek pengetahuan atau logika. Aspek ini mencangkup cara berpikir. Aspek kedua adalah perasaan atau empati. Kedua aspek tersebut harus memegang peranan dalam kehidupan.

Kita harus membaca Indonesia dengan baik, bukan membaca Indonesia untuk diri sendiri. Pada intinya, beliau meminta kami untuk tidak dengan mudah menjual apa pun yang ada di Indonesia sementara yang lain belum menikmatinya. Kami harus bekerja dan berusaha sebagai manusia seimbang untuk perimpamaan settingnya.

Selain itu, beliau juga membahas tentang kewirausahaan social. Ini memegang prinsip bahwa semua orang unik, oleh karena itu, kami harus berkarya di bidang yang disukai dengan sebaik-baiknya. System ekonomi saat ini tidak manusiawi. Kita dapat memikirkan alternative agar menjadi lebih manusiawi. Langkah-langkahnya yaitu perbaikan visi pembangunan, perubahan paradigm investasi dan pembatasan pertumbuhan usaha. Pada intinya, beliau mengarahkan kami untuk menjadi mahasiswa dan alumni yang pro lingkungan dan masyarakat local dan berguna pula bagi mereka.

Pembicara terakhir adalah Seherhen Akbar selaku founder dan CEO dari riset indie. Riset indie memiliki banyak melakukan proyek-proyek yang berguna bagi orang lain tetapi sering kali masalah yang dibahas telat kita abaikan dari kehidupan kita. Proyek pertama adalah melestarikan teknologi kamera polaroid. Proyek kedua adalah animatronic. Proyek ini menyatukan mahasiswa dari teknik elektro dan seni rupa untuk menghasilkan boneka yg dapat dikendalikan. Kadang kita tidak menyadari bahwa hal-hal kecil jika digabungkan akan menghasilkan sesuatu yang besar. Proyek selanjutnya dan yang termasuk kategori ‘akan datang’ adalah angkot day. Satu hari dimana angkota trayek tersebut disewa untuk memberikan pelayanan yang baik seperti aman, nyaman, dan tidak mengetem.Selain itu, beliau juga berpesan pada kami untuk selalu memiliki bayangan tentang hari esok, tetapi kami nantinya akan menyadari jika hal ini adalah penting.

Pada seminar kali ini, keempat narasumeber memiliki persamaan. Mereka semua membuat perubahan positif secara perlahan, gigih dan memulainya dari hal yang kecil, dari diri sendiri. Mereka sangat menunjukkan rasa cinta tanah air dan kepedulian mereka terhadap tanah tercinta ini. Kisah-kisah dan materi dari mereka semua sangat menginsprirasi dan membuat kami ingat bahwa perubahan sekecil apapun lama kelamaan akan terasa karena perubahan kecil itu akan berubah menjadi sesuatu yang besar.



Review Seminar OSKM 2013

Pada hari Jumat, 23 Agustus 2013, kami memulai Orientasi Studi Keluarga Mahasiswa Institut Teknologi Bandung 2013 hari keenam.

1. Seminar oleh Bapak Gita Wiryawan
Bapak  Gita Wirjawan adalah seorang menteri perdagangan. Disamping itu beliau juga menjabat sebagai Ketua Umum PBSI. Pendidikan terakhir Bapak Gita adalah S1 University of Texas dan S2 Public Administration Harvard.
Seminar diawali dengan penjelasan mengenai semangat kemahasiswaan. Menurut Bapak Gita, semangat kemahasiswaan yang kental merupakan salah satu kearifan lokal. Merdeka bukan hanya pada saat 17 Agustus saja. Namun dapat kita rasakan setiap hari dari sesuatu yang membuat kita bangga. Perekonomian Indonesia membutuhkan pemimpin yang mengerti rakyat dan lekat terhadap rakyat.
Setelah itu beliau sedikit bercerita tentang bulutangkis Indonesia, yaitu saat pertandingan di Guangzhou, China. Saat itu, suporter dari Indonesia hanya 35 orang. Maka dari itu, Beliau diminta oleh Rexy Mainanky untuk memberikan semangat kepada para pemain yang saat itu sedang bertanding.  Beliau memberikan wejangan: “If u want it, you’ll get it, It depends how much you want it.” Kesuksesan itu ada tergantung bagaimana kita menginginkannya. Selanjutnya, beliau kembali melanjutkan perbincangan mengenai ekonomi. Beliau mengatakan bahwa Indonesia adalah negara Islam terbesar. Namun ironisnya Indonesia sebagai penduduk islam sebanyak 23,5% hanya menyumbang 9% perekonomian. Menurut Beliau, Indonesia bisa sukses jika dipimpin oleh orang yang berkearifan lokal. Bukan  pemimpin yang menghilangkan adat istiadat dan budaya. Jika kita menyia-nyiakan, Indonesia akan kehilanhan jati dirinya. Disamping itu pemimpin juga harus kreatif.
Indonesia terletak di tempat strategis dalam perekonomian. Jadi sewajarnya Indonesia menjadii negara maju. Namun tantangan besar menghadang. Indonesia perlu meningkatkan 60% produktivitas tenaga kerja dengan pertumbuhan 7%/ tahun. Saat ini Indonesia masih mengalami “Middle Income Trap” dengan PDB(pendapatan perkapita) hanya 5000-7000 dolar saja padahal negara lain mampu mencapai 10000-15000 dolar. Bahkan Korea mencapai 30000 dolar. Indonesia mampu maju jika mengedepankan demokrasi, pluralisme, dan budaya. Beliau juga menyampaikan ada mitos bahwa pertumbuhan hanya ada di Jakarta namun sekarang sudah ada di Bandung, Surabaya dll. Bahkan kini 46% realisasi investasi ada di luar pulau Jawa. Semakin rata distribusi semakin sejahtera. Di penghujung seminar beliau menuturkan: Kepentingan rakyat adalah segalanya.

2. Seminar  oleh Indra Hidayat
Indra Hidayat adalah Ketua Umum Wanadri. Dia juga alumnus ITB Teknik Mesin 2009. 
Menurut Indra Hidayat, Indonesia memiliki 70% wilayahnya terdiri dari perairan. Namun pada sat ini potensi SDA yang dikembangkan hanya daratan saja. Indonesia terdiri dari beragam budaya, Negara kepulauan, banyak flora dan fauna, sungai yang beragam, kawasan khusus karst, kawasan khas yaitu adanya es di sepanjang garis khatulistiwa. Kita sebagai pemuda Indonesia wajib membenahi sistem yang ada agar bangsa Indonesia menjadi Negara yang disegani oleh Negara lain.

3. Seminar oleh Ibu Tri Mumpuni
Ibu Tri adalah seorang pemberdaya listrik di lebih dari 60 wilayah di Indonesia. Menurut Ibu Tri Mumpuni, orang yang berintegritas adalah orang yang berpengetahuan dan mempunyai logika, perasaan serta empati. Otak digunakan untuk berpikir sedangkan hati untuk merasa. Orang yang memiliki integritas adalah orang yang mampu membaca Indonesia dengan baik. Selain itu SDA dengan paradigma yang benar mampu memberdayakan manusia.
Menurut Ibu Tri, lebih dari 100 juta rumah belum berlistrik dengan lebih dari 60 juta anak Indonesia tanpa listrik. Selanjutnya, bu Tri membahas tentang definisi umum ekonomi saat ini. Sewajarnya, Ekonomi adalah keadaan setimbang, dinamis, antara investasi dan konsumsi untuk mencapai setinggi-tingginya pertumbuhan. Semakij besar pertumbuhan semakin baik ekonomi. Pertumbuhan harus terikat pada kesejahteraan dan daya dukung lingkungan.

4. Seminar oleh Saska
Saska adalah pendiri Riset Indie. Dia adalah alumni ITB jurusan Teknik Elektro 2003 serta Ketua Himpunan Elektro 2005-2006. Menurut Saska, Riset Indie menyangkut penelitian dalam ranah yang luas, mandiri. Risetindie mencakup bidang teknologi, sosial, ekonomi dan media. Riset Indie didirikan atas dasar keinginan untuk menyalurkan aktivitas. Riset Indie juga memfasilitasi bagi pemuda yang ingin mengembangkan ide-ide yang dapat berguna bagi kehidupan masyarakat. Selain itu di riset indie banyak aktivitas yang positif yang dapat dilakukan oleh pemuda potensial.




Dibuat oleh : Kenan Mahesa S ( STEI / 16513262 )
Resume OSKM ITB 2013 Jumat, 23 Agustus 2013 by Jovian Augustine

Pagi-pagi betul, kami, para Maba sudah dimobilisasi menuju Saraga untuk memulai aktivitas kami. Namun, kami sangat kaget ketika acara yang seharusnya membangkitkan semangat pagi malah menjadi acara interogasi. Panitia OSKM di panggung memarahi kami yang disebutnya tidak kompak, sehingga ada salah satu Maba yang berdiri untuk membela teman-teman Mabanya. Suasana pagi itu menjadi sangat mencekam. Namun mulailah para panitia berlagak aneh dan konyol hingga akhirnya mereka membeberkan sandiwara mereka. Ternyata mereka adalah PEMIMPIN Senam Pagi untuk membangkitkan semangat kami pagi itu. Mereka merupakan para anggota salah satu UKM di ITB yaitu LSS( Lingkup Seni Sunda). Acara yang mencekam itu pun berubah menjadi acara yang menebar senyum dan gelak tawa.

Setelah selesai kami pun segera melaksanakan tugas kami untuk membuat tulisan raksasa #UntukIndonesia.. Kami hanya diberi waktu 1 jam untuk membuat tulisan tersebut yang berisikan 3659 Maba yang membawa kresek merah dan juga putih yang menggambarkan warna bendera Indonesia. Kami sudah mempersiapkan para komandan dan juga penanggung jawab setiap huruf sehingga memudahkan pekerjaan kami. Hasilnya pun sangat indah. Kami berhasil!

Setelah itu acara dilanjutkan menuju gedung Sabuga untuk mendengarkan presentasi dari Unit Pelaksana Teknis Keamanan, Kesehatan, dan Kebersihan Lingkungan (K3L). Setelah itu acara dilanjutkan dengan Defile Open House Unit yang terdiri dari 80 unit yang mencakup bidang beragam mulai dari keagamaan, keilmuan, kebudayaan, dll.

Kemudian kami pun dikondisikan untuk bertemu mentor-mentor agama kami masing-masing, sedangkan yang beragama Muslim melaksanakan Shalat Jumat. Lalu, kami semua pun kembali ke gedung Sabuga untuk mendengarkan presentasi dari beberapa bintang tamu yang salah satunya adalah Bapak Mentri Perdagangan yang juga mengepalai PB PBSI, Bapak Gita Wirjawan.

Acara dipandu oleh alumni SBM ITB, yang juga Puteri Indonesia 2011, Maria Selena. Bintang tamu yang pertama tentunya Bapak Gita Wirjawan yang berisi bahwa negara Indonesia membutuhkan pemimpin-pemimpin bangsa yang memiliki kearifan, yang menjawab tantangan, dan yang berjiwa Garuda! Berjiwa Garuda disini adalah kreatif, terampil, dan melek teknologi.

Bintang tamu kedua adalah salah satu komunitas pecinta alam, Wanadri. Wanadri memberikan presentasi tentang cinta tanah air dimana bumi Indonesia ini memiliki lebih kurang tujuh belas ribu pulau yang terbentang dari Sabang sampai Merauke. Maka dari itu kita harus bangga dan salah bentuk nyatanya adalah dengan menjelajahi Indonesia!

Ada pula Ibu Tri Mumpuni Iskandar, seorang yang memiliki concern mengenai pemberdayaan listrik di Indonesia. Ibu Tri menyampaikan seseorang harus menyeimbangkan unsur pengetahuan/logika dengan empati agar setiap kita bisa memiliki kepedulian terhadap masalah di Indonesia. Jika takarannya tidak seimbang, bisa saja terjadi penyimpangan.

Bintang tamu terakhir merupakan alumni ITB 10 tahun yang lalu, Saska. Beliau merupakan CEO dari Riset Indie yang bergerak dalam bidang teknologi, sosial, dan media untuk pengembangan bidang ekonomi. Beberapa proyek yang pernah beliau teliti adalah Polaroid, dan Alinea. Selain itu, proyek yang sedang dijalankan adalah proyek Angkot Day.

Timeline dan Sejarah Kemahasiswaan ITB

Tahun 1920: didirikan Technisce Hoogeschool te Bandoeng (TH Bandoeng)
Tahun 1940: Berubah nama menjadi Institut of Troopical Science (ITS)
Tahun 1944: Jepang mengubah nama ITS menjadi Kogyo Daigaku
Tahun 1946: Kogyo Daigaku berubah nama menjadi Sekolah Teknik Bandoeng
Tahun 1947: kampun STT Bandieng dijadikan Fakulteit van Technisce Wateenschap(fakultas ilmu teknik) dan Fakilteit van Exacte Wetenschap (Fakultas Ilmu Pasti)
Tahun 1960 : berdiri Dewan Mahasiswa ITB (DM ITB) yang dipimpin oleh Piet Corputty (fakultas teknik sipil)
Tahun 1982: Pembubaran DM ITB
Tahun 1996: Berdirinya Keluarga Mahasiswa ITB (KM ITB)
Tahun 1999: KM ITB dipimpin oleh R. Sigit Adi Prasetyo (IF 1995)
Tahun 2000: OSKM pertama sekali yang diketuai oleh Alfari Firdaus (TI 1996)
Tahun 2002: Alga Indria (DP 1998) terpilih menjadi Presiden KM ITB
Tahun 2005: Syaiful Anam (EL 2001) terpilih menjadi Presiden KM ITB
Tahun 2007: Zulkaida Akbar (FI 2003) terpilih menjadi Presiden KM ITB
Tahun 2008: Shana Sukarsono (TI 2004) terpilih menjadi Presiden KM ITB
Tahun 2009: Yusuf Achmad (PL 2005) terpilih menjadi Presiden KM ITB
Tahun 2011: Kabinet Herry membawa isu kewirausahaan di ITB manjadi dikenal di Indonesia
Tahun 2013: Nyoman Anjani (Mesin 2009) terpilih menjadi Presiden KM ITB

resume Rivan Tristyanto

23 Agustus 2013 diadakam seminar yang dihadiri oleh salah satunya bapak Gita Wirjawan.
Dalam seminar beliau, Bapak wirjawan yang selaku ketua PBSI dan juga menjabat sebagai Menteri Perdaganham ini sangat terbuka akan pemikirannya dalam hal pertumbuhan ekonomi di Indonesia dan membuat cara fikir mahasiswa untuk turut membantu kelaknya agar Indonesia mampu menjadi negara yang mampu mengusai per ekonomian Dunia.
Berikut beberapa hal yang disampaikan beliau dalam presentasinya diantara 3600 mahasiswa baru ITB 2013 dan para panitia OSKM serta orang orang penting di ITB
1. Indonesi merupakan negara islam terbesar dari segi sisi ekonomi, bahkan 2x lebih besar dari saudi arabia
2.Kedudukan ekonomi islam di Dunia hanya kurang dari 9% dari jumlah total seluruh ekonomi dunia.
3. Untuk turut serta menumbuhkan ekonomi di Indonesia, maka Indonesia membutuhkan para pemuda yang memiliki kearifan lokal guna menyeimbangkan perekonomian di Indonesia yang dihuni beberapa ras yang berbeda.
4. pembangunan di Indonesia harus memajukan potensi pembangunan daerah dengan tujuan guna menyeimbangkan antar daerah agar tidak terjadi kesenjangan daerah di Indonesia
5. Kita sebagai mahasiswa harus mampu menggarudakan diri kita sendiri.

dengan banyaknya info serta motivasi dari bapak Gita di Sabuga tanggal 23 Agustus 2013 itu merupakan motivasi bagi saya seorang mahasiswa baru agar mampu turut serta nantinya untuk membantu perekonomiam di Indonesia agar menjadi Negara dengan perekonomian yang tumbuh melesat dan mampu menguasai perekonomian dunia nantinya. sekian resume dari saya mengeai bapak Gita Wirjawan.. kurang lebihnya mohon maaf dan terima kasih.

by Rivan Tristyanto
19713109

resume Seminar 2013 By Muhammad Rangga Brata Sena

Tanggal    :     23 Agustus 2013
Acara        :     Seminar OSKM 2013

Kami, para MaBa ITB 2013, mengikuti acara seminar setelah kita melihat penampilan LSS ITB di lapangan SARAGA. Isi dari seminar ini meliputi 4 pembicara yang dihadiri oleh pembicara handal dan mumpuni di bidangnya
1.       Isi Seminar
Saat sekarang, Indonesia membutuhkan pemimpin muda berbakat dan menjunjung kearifan lokal yang harus ditonjolkan dalam diri para pemuda sekarang khususnya para mahasiswa.
Kenapa kita perlu dengan pemimpin seperti itu? Saya hanya melihat dari masalah yang saya tahu dari media bahwa kekayaan indonesia sangat melimpah dan SDM yang ada sangat bisa membuat indonesia lebih maju dan mengelola SDA tersebut untuk dirinya, negara, dan luar negeri. 26% penduduk dunia adalah yang berkewarganegaraan Indonesia. Namun, kurang dari 9 % perekonomian Indonesia adalah milik indonesia sedangkan 81 % dikelola dan dimanfaatkan oleh perusahaan asing yang ada di indonesia.
Kenapa itu bisa terjadi ? SDM yang ada di Indonesia kurang bisa mengolah SDA yang melimpah dikarenakan kurangnya pengetahuan tentang pendidikan dan teknologi, sedangkan 2 aspek tersebut dibutuhkan oleh para pengusaha supaya mereka percaya bahwa SDM indonesia itu bisa mengelola SDAnya sendiri.
Maka dari itu, ITB adalah salah satu universitas yang bisa dipercaya untuk melahirkan lulusan yang bisa menjadi pemimpin yang dibutuhkan oleh negara Indonesia tercinta ini dan diharapkan lulusan ITB memiliki jiwa nasionalisme dan cinta tanah air yang tinggi.
Kontribusi ITB terhadap negara ini adalah melahirkan 2 presiden yang hasil kerjanya sangat memuaskan sekali. Yaitu Ir. Soekarno dan B.J. Habibi. Dan 30% perwakilan DPR yang ada di Kabinet Bersatu adalah lulusan dari ITB.
Itulah isi seminar yang disampaikan oleh Bapak Gita Wirjawan selaku Mentri Perdagangan RI. Belia berpesan,

“ jadilah garuda-garuda yang kreatif, terampil, melek teknologi dan memiliki jiwa kebangsaan. Dan menjadi pemimpin yang menjunjung kearifan lokal .